Pendidikan Pada Masa Wabah, Tantangan Baru Bagi Sekolah, Guru dan Orang Tua

Pendidikan Pada Masa Wabah,   Tantangan Baru Bagi Sekolah, Guru dan Orang Tua

 

Pendidikan Pada Masa Wabah,Tantangan Baru Bagi Sekolah, Guru dan Orang Tua Praptono (Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan,
Pendidikan Menengah dan Khusus,Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Pendahuluan
Pada saat sekolah ditutup karena wabah Covid-19 di Indonesia dan murid-murid terpaksa harus Belajar Dari Rumah (BDR), mungkin ini kesempatan baik bagi para guru dan tenaga kependidikan untuk mulai menjalankan konsep merdeka belajar. Saya katakan kesempatan baik, karena kita semua dihadapkan pada tantangan yang tidak pernah terduga sebelumnya. Situasi sekarang ini, memaksa guru harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
dalam waktu yang cukup lama. Dan kita semua, tidak pernah
mengalami pengalaman semacam ini sebelumnya. Tantangan ini
memaksa para guru untuk berpikir keras, inovasi pembelajaran
apakah yang harus dilakukan agar murid, meskipun harus BDR,
namun tetap bergairah belajar dan materi inti dari kurikulum dalam
diserap murid.
Disinilah pentingnya guru melakukan refleksi yaitu melakukan
evaluasi diri, mengenali kelebihan dan kelemahannya, termasuk
mencermati dengan baik situasi yang sedang dihadapi muridnya
(apalagi pada masa BDR). Selanjutnya, memikirkan apa yang perlu
ditingkatkan dan bagaimana caranya. Berpikir keras semacam ini
harus dilakukan mengingat jalan menuju tujuan pembelajaran tidak
bisa dilakukan secara normal. Mau tidak mau, guru harus berpikir
menemukan cara yang paling efektif agar tujuan pembelajaran

tetap tercapai. Kesediaan untuk mengubah mindset dan
keterampilan menemukan berbagai cara, atau inovasi inilah yang
sebetulnya menjasi esensi dari semangat merdeka belajar. Ingatlah,
merdeka belajar itu adalah mereka yang senantiasa merefleksikan,
menyesuaikan pemikiran dan perbuatannya terhadap perubahan
sekitar dalam upaya mencapai tujuan, dan ini harus dilakukan guru.

Masa Pandemi
Sebagai bahan refleksi, marilah kita mencermati terlebih
dahulu zaman baru yang kini sedang berlangsung, yaitu zaman new
normal yang menuntut adaptasi kebiasaan baru yang tidak pernah
dilakukan sebelumya. Adaptasi kebiasaan baru tersebut
mengharuskan menjalankan protokol kesehatan secara ketat dalam
semua lini kehidupan. Dalam rangka menanggulangi wabah, kita
harus menjalankan seluruh proses kehidupan di dalam rumah.
Semua orang, baik orang tua maupun anak, diharapkan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bekerja di rumah, belajar di rumah,beribadah di rumah, mencari hiburan juga di rumah, semua serba di rumah.
Ketika kehidupan serba di rumah itu berlangsung selama
sebulan, mungkin orang masih kuat, namun ketika kehidupan serba
di rumah sudah berbulan-bulan, maka siksaan psikologis mulai
dirasakan. Kejenuhan tidak hanya dihadapi orang tua, anak-anak
juga mengalami kebosanan. Mereka sangat ingin keluar rumah,
mungkin rindu sekolah dan rindu bermain bersama teman sebaya di area publik. Namun, keharusan mengikuti protokol kesehatan,
memaksa orang tua membujuk anak-anaknya agar mengurungkan
niat itu, demi menjaga risiko tertular Covid-19.
Di sini yang harus dihadapi sebenarnya beban ganda.
Pertama, kita semua harus menjaga kesehatan fisik agar tidak
tertular Covid-19. Untuk itu, kita membatasi diri ke luar rumah dan

harus selalu menjaga jarak ketika bertemu orang lain. Setiap hari
kita harus menggunakan masker dan harus menghindari
kerumunan. Bahkan, berjabat tangan yang menjadi kebiasaan baik
kita selama ini, terpaksa tidak bisa dilakukan. Kita dipaksa untuk
melakukan adaptasi kebiasan baru, demi menjaga kesehatan
bersama, khususnya mencegah penularan virus Covid-19. Tulisan
Dokter Rachmalia Fitri Rosa dalam buku ini sudah menguraikan
dengan sangat baik, apa saja yang harus dilakukan selama masa
pandemi.
Beban kedua adalah beban psikologis. Berdiam diri di rumah
dalam tempo relatif lama jelas menimbulkan kejenuhan dan
kebosanan. Orang tua sendiri mengalami masalah ini. Apalagi anak-anak ,remaja yang pada usianya membutuhkan gerak aktif dan

lebih senang beraktivitas di luar rumah. Sekarang ini, para murid
terpaksa harus lebih banyak berada di rumah; belajar di rumah,
bermain di rumah dan aktivitas lainnya juga harus di rumah.
Keharusan ini dapat memicu stres dan depresi bagi anak. Kalau
orang tua relatif mampu mengendalikan emosinya, maka
persoalannya akan berbeda bagi anak-anak yang daya tahannya
relatif kurang menghadapi kebosanan dan kejenuhan. Disinilah
dibutuhkan pertolongan pertama psikologis bagi anak-anak.
Tulisan Dicky Pelupessy, Susana Prapunoto dan Deswarita
Eryanti dalam buku bunga rampai ini memberikan cukup banyak
strategi dan kiat-kiat bagaimana pertolongan pertama psikologis
harus diberikan kepada anak ketika menghadapi masalah kejenuhan akibat terlalu lama berdiam diri di rumah dan tidak sempat bersosialisasi secara luas dengan teman-temannya. Dicky Pelupessy menggarisbawahi, yang paling penting dilakukan dalam
memberikan pertolongan pertama psikologis adalah mendengarkan
segala macam keluhan anak dengan tidak menghakimi. Apabila hal
ini sudah dilakukan maka dapat terdapat tiga langkah langkah :

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pengumuman

SURAT EDARAN JAM PEMBELARAN EFEKTIF DI BULAN RAMADHAN 1442 H

SURAT EDARAN JAM PEMBELARAN EFEKTIF DI BULAN RAMADHAN 1442 H

Pengumuman Menindaklanjuti surat dari Kadisdikbud Kab. Pamekasan ttg kegiatan pembelajaran di bulan  Ramadhan, maka perlu dilakukan hal² sbb: Seluruh siswa diwajibkan mengikuti lomba menghafal juz amma. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti lomba menulis juz amma...

workshop Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) GUGUS 8

workshop Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) GUGUS 8

Merdeka belajar adalah kebijakan besar dalam rangka mewujudkan transformasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan menghapus Ujian Nasional (UN) diganti Asesmen Kompetensi. Asesmen nasional sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu Asesmen Kompetensi...

Kalender Pendidikan

PENGUMUMAN GURU DAN TENDIK SILN TAHUN 2021

15 Juli 2019

Hari Pertama Masuk Tahun Pelajaran 2019/2020

PENGUMUMAN GURU DAN TENDIK SILN TAHUN 2021

15 Juli 2019

Hari Pertama Masuk Tahun Pelajaran 2019/2020

Komentar Terbaru